Autonomous awaknya yang menjadikan impian bagi perkembangan teknologi

Autonomous Drive, Self Driving Car, Autopilot, bukan lagi sebuah teknologi imajiner atau khayalan
belaka. Tahun 90an, ada sebuah serial televisi yaitu Knight Rider, serial
fiksi tentang mobil yang kerap beraksi memerangi kejahatan, yang menjadi
inspirasi bukan aksinya melainkan imajinasinya tentang teknologi transportasi
tanpa awaknya yang menjadikan impian bagi perkembangan teknologi transportasi
masa kini. Google mewujudkan
impian tersebut dengan menciptakan  mobil pintar alias smart
car untuk pertama kalinya
dengan cara memodifikasi mobil Lexus SUV, Toyota Pirus dll. Cara kerja dari
mobil ini yaitu dengan menggunakan tenaga listrik yang bisa berjalan hingga 100
mil menggunakan berbagai sensor dan software dengan teknologi
terbaru . Semua mobil dilengkapi dengan sistem navigasi satelit, radar,
laser, dan camera360 derajat yang berfungsi mendeteksi keadaan sekitar. Pada
tahun 2010, Google menjalankan program bernama Google Driverless Car
yang dipimpin oleh Sebastian Thurm. Ini adalah riset auto drive pertama di dunia. Self
driving car diciptakan dengan tujuan meringankan pekerjaan manusia dengan teknologi
ini diharapkan dapat membantu kebutuhan manusia dalam bidang transportasi.
Namun terjadi beberapa kontroversi dengan adanya teknologi self drive car ini, penulisan ini bertujuan untuk mengetahui
masalah yang terjadi dalam sistem teknologi self
driving car, dan untuk mengetahui bagaimana cara untuk mengurangi masalah
yang timbul dari sistem teknologi tersebut. Dari tujuan tersebut timbul
pertanyaan seperti, apa yang menyebabkan kecelakaan bisa terjadi dalam
teknologi tersebut?. Bagaimana agar syytematic
error yang menjadi masalah bisa dikendalikan?.

Teknologi
masa kini memang sangat berkembang pesat dan salah satunya teknologi dibidang
otomotif. Perkembangan teknologi tentunya memiliki beberapa resiko bagi para
penggunanya. Self driving car adalah salah
satu teknologi otomotif yang sedang berkembang, pasalnya hanya ada beberapa
mobil yang diterapkan oleh teknologi tersebut. Hal itu disebabkan teknologi self driving car masih dalam proses uji
coba. Teknologi mobil tanpa awak atau kemudi otomatis akan sangat bermanfaat
bagi pemilik kendaraan untuk mengurangi pekerjaan mereka dalam berkendar.
Yang menjadi persoalan dalam teknologi ini adalah keselamatan dan keamanan
sistem. Permasalahan dari teknologi tersebut
sebenarnya tergantung dari
pengguna teknologi itu sendiri, contoh seperti kasus pada tahun 2016 yang menewaskan John Brown yang
mengendarai mobil pabrikan Tesla tipe-S yang diakibatkan oleh kesalahan sistem
kemudi otomatis, namun faktanya mengungkapkan “Dewan
Keselamatan Transportasi Nasional (National Transportation Safety Board – NTSB)
telah menyimpulkan bahwa kecelakaan yang menimpa Tesla pada tahun 2016 disebabkan oleh kurangnya
pengamanan autopilot. Lebih tepatnya,
kurang perhatian sopir dan kelebihan teknologi penggerak swakemudi.”(www.suara.com). Dalam
kejadian tersebut yang lalai sebenarnya pemugemudi yang menggunakan teknologi
tersebut, karena dia memberikan kendali penuh terhadap sistem autopilot tersebut dan terjadi system error yang sebenarnya masih bisa
dapat kita hindari dengan mengubah sistem dari kendali otomatis ke kendali
manual sehingga kecelakaan pun dapat dihindari. Kembali lagi sebagaimana fungsi
dan tujuan teknologi self driving car dibuat
untuk membantu meringankan pekerjaan manusia dalam berkendara tapi bukan
sebagai pengganti manusia untuk berkendara. NHTSA
(National Highway Traffic Safety Administration) mengeluarkan kebijakan terkait
mobil dengan fitur otonomus atau self driving car.  NHTSA mendefinisikan kendaraan otonomus dengan 5 level yaitu  (Ivan Hermawan,2016) :

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

1. No automation (Level 0), pengemudi
bertanggung jawab penuh pada pengendalian mobil, gas, rem, kemudi dan tenaga
setiap saat.

2. Function-Spesific
Automation (Level 1), pengemudi pada level ini terlibat pada satu atau
lebih pada pengaturan fungsi tertentu. Misalnya menyala-matikan ESC (Electronic
Stability Control).

3. Combined Function
Automation (Level 2), pada level ini otomatisasi fitur terjadi pada minimal
dua fungsi penting yang berguna untuk menghilangkan kerja pengemudi pada

fungsi tersebut. Misalnya saja Adaptive Cruise Control dan Lane
Departure Assist. Pada fitur tersebut komputer akan mengambil alih gas, kemudi,
dan rem pada level yang rendah.

4. Limited Self-Driving
Automation (Level 3), pada kondisi ini, semua kendali diserahkan pada
mobil, namun pengemudi masih dibutuhkan untuk waspada memberikan kontrol
sesekali dengan maksud mengurangi beban pengemudi.

5. Full Self Driving
Automation (Level 4), di level ini, kendaraan dirancang untuk mengontrol
semua kendali hingga level paling kritis sekalipun. Sehingga penumpang hanya
perlu menentukan lokasi tujuan saja dan tidak diharapkan mengambil kendali pada
perjalanan.

Teknologi self driving
car dibuat untuk mengurangi kecelakaan yang diakibatkan human error yaitu dimana manusia sedang
dalam keadaan lelah dan mengantuk. Penulis meyakini bahwa teknologi kemudi
otomatis akan terus berkembang dan memiliki manfaat yang akan sangat
membantu  manusia dalam berkendara.

             Teknologi yang berkembang harus diiringi oleh
pemahaman dalam menggunakan teknologi itu sendiri. Sebenarnya teknologi dibuat bukan
untuk menggantikan manusia dari pekerjaannya melainkan untuk membantu dan
meringankan pekerjaan manusia. Kesalahan dan kecelakaan yang terjadi akibat system error namun itu disebabkan juga oleh
kelalaian dari pengguna teknologi tersebut yang memberikan kuasa penuh
terhadap  sistem teknologi sehingga
masalah yang timbul tidak dapat dihindari. Adapun cara untuk mengatasi masalah
akibat sistem yang rusak adalah dengan mengubah dari mode otomatis ke mode
manual, sehingga peluang masalah yang terjadi akibat kesalahan sistem dapat
diperkecil.