Latar tersebut karena mereka belum mengetahui batasan benar

Latar BelakangMasa usia dini merupakan periode emas (golden age) bagi perkembangan anak untuk memperoleh proses pendidikan. Periode ini adalah tahun-tahun berharga bagi seorang anak untuk mengenali berbagai macam fakta di lingkungannya sebagai stimulan bagi perkembangan kepribadian, psikomotor, kognitif, bahasa, dan sosialnya. Anak usia dini seringkali menirukan apa yang mereka lihat, rasakan maupun dengar dari lingkungan sekitarnya. Hal tersebut karena mereka belum mengetahui batasan benar atau salah dan baik atau buruk. Oleh karena itu, masa usia dini adalah masa yang peka terhadap pengaruh dari lingkungan dan merupakan kesempatan bagi lingkungan yang dalam hal ini ialah orang tua serta guru untuk mengembangkan potensi anak seoptimal mungkin dengan cara menyediakan lingkungan berupa kegiatan yang sesuai dengan perkembangan anak.Salah satu potensi anak yang sangat perlu diperhatikan adalah potensi penalarannya terhadap moral. Penalaran anak terhadap moral akan mempengaruhi pembentukan karakternya. Maka dari itu, nilai-nilai agama dan moral pada anak usia dini penting untuk dikembangkan. Nilai merupakan harga atau berbagai hal yang berguna bagi manusia, sedangkan moral berarti suatu kebiasaan dalam bertingkah laku dengan baik. Jadi, pengembangan nilai moral merupakan pembentukan perilaku anak melalui pembiasaan yang terwujud dalam keadaan sehari-hari, hal tersebut untuk mempersiapkan anak sedini mungkin dalam mengembangkan sikap dan perilaku yang dilandasi moral pancasila.Nilai moral pada anak dapat terlihat dari mampu tidaknya anak itu membedakan yang baik dan yang buruk, bersikap jujur, menghormati guru, rapi dalam berpakaian, menjaga kebersihan lingkungan, ramah, tanggung jawab dan menghargai teman. Upaya dalam pengembangan nilainilai moral pada anak usia dini harus dilakukan dengan tepat agar pesan moral yang disampaikan kepada anak tidak terhambat. Salah satu metode yang tepat dalam mengembangkan nilai-nilai moral pada anak usia dini yaitu melalui metode storytelling atau mendongeng.Nilai Agama adalah aturan dan wahyu Tuhan yang sengaja diturunkan agar manusia hidup teratur, damai, sejahtera, bermartabat, dan bahagia baik di dunia maupun di akhirat. Ajaran agama juga berisi seperangkat norma yang akan menghantarkan manusia pada suatu peradaban masyarakat madani.Storytelling atau mendongeng merupakan cara yang sering dilakukan oleh para orang tua dalam mendidik anaknya untuk menanamkan nilai-nilai luhur. Storytelling atau mendongeng tidak semata cerita pengantar tidur tentang mitos atau sejenisnya, tetapi juga kejadian-kejadian nyata yang dikemas sedemikian rupa dengan bantuan teknologi sehingga menarik dan kaya pesan moral. Storytelling atau mendongeng yang tepat untuk anak usia dini yaitu dengan pemilihan dongeng yang berisi nasehat, bimbingan, dan pesan moral yang berguna bagi kehidupan. Dalam hal ini storytelling atau mendongeng menempati posisi pertama dalam mengubah etika anak-anak dengan cara yang menyenangkan tanpa mereka sadari dan mengembangkan imajinasi, mengekspresikan diri, mengasah pengalaman emosional dan memperluas wawasan pengetahuan anak terhadap lingkungan sekitarnya.Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mendefinisikan bahwa metode storytelling atau mendongeng adalah cara bertutur kata penyampaian cerita atau memberikan penjelasan kepada anak secara lisan, dalam upaya mengenalkan ataupun memberikan keterangan hal baru pada anak. Dalam penyampaian nilai-nilai moral melalui storytelling atau mendongeng, seorang guru harus paham dengan nilai moral yang hendak disampaikan dan juga menguasai dengan baik teknik dalam bercerita. Hal tersebut agar lambat laun merubah perilaku anak yang semula tidak sesuai dengan nilai yang ada dalam keseharian di masyarakat menjadi lebih baik. Metode storytelling atau mendongeng akan mampu menjadi metode yang efektif digunakan untuk mengembangkan nilai-nilai moral bagi anak usia dini jika diterapkan secara tepat.Akan tetapi, kenyataannya masih banyak nilai-nilai moral belum berkembang dengan baik seperti kurang menghormati guru, tidak berpakaian rapi, tidak menjaga kebersihan lingkungan, kurang ramah, kurang bertanggung jawab dan kurang menghargai teman. Penyebab masalah tersebut yaitu kurangnya fasilitas seperti buku cerita maupun gambar, alat permainan boneka tangan, dan metode yang tidak bervariasi dan kurang tepat sehingga anak merasa bosan dan kurang memperhatikan apa yang diajarkan. Dalam memecahkan masalah metode yang dipilih untuk mengembangkan nilai-nilai moral pada anak usia dini yaitu metode storytelling atau mendongeng karena dianggap akan efektif bila diterapkan secara tepat. Maka dari itu diperlukan pengembangan nilai-nilai moral pada anak usia dini melalu metode storytelling atau mendongeng. Semoga penelitian yang berjudul “Pengembangan Nilai-nilai Moral pada Anak Usia Dini Melalui Metode Storytelling” bermanfaat dalam mengembangkan nilai-nilai moral pada anak usia dini serta menambah pengetahuan khususnya bagi para guru dan orang tua.Tujuan PenelitianTujuan dari penelitian ini yaitu sebagai berikut:Untuk mengetahui penerapan metode storytelling atau mendongeng dalam pengembangan nilai agama dan moral pada anak usia dini.Untuk mengetahui kendala yang dihadapi dalam pengembangan nilai-nilai moral pada anak usia dini melalui penerapan metode storytelling atau mendongeng.Metode Penelitian penelitian yang bertujuan mendeskripsikan atau menjelaskan sesuatu hal seperti apa adanya. Pemilihan pendekatan penelitian disesuaikan dengan jenis penelitian yang dipergunakan, pada kesempatan ini pendekatan penelitian yang akan dipergunakan adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah pendekatan yang bertujuan untuk mengetahui makna yang sebenarnya dibalik fakta-fakta. Data yang dikumpulkan berdasarkan data primer. Data primer adalah data yang diambil langsung, tanpa perantara, dari sumbernya. Sumber dari data ini bisa berupa benda-benda, situs website atau manusia. Penulis menggunakan teknik pengumpulan data observasi dan wawancara.Observasi yaitu teknik pengumpulan data yang menggunakan cara sistematis dan sengaja dilakukan dengan cara melakukan pengamatan dan pencatatan dari sebuah gejala-gejala.Wawancara yaitu teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk mendapatkan keterangan-keterangan lisan melalui bercakap-cakap dan berhadapan muka dengan orang yang dapat memberikan keterangan pada si peneliti.Hasil dan PembahasanHasilHasil dari observasi menyatakan bahwa metode storytelling atau mendongeng dapat dilakukan oleh para guru dengan mengacu pada pembahasan atau topik yang tercantum dalam silabus mata pelajaran. Cerita yang disampaikan oleh guru biasanya lebih mudah dipahami daripada anak harus membacanya sendiri. Berdasarkan hasil wawancara salah satu guru sekolah dasar menyatakan bahwa:Pengembangan nilai-nilai moral pada anak usia dini atau siswa sekolah dasar biasanya dilakukan melalui pembiasaan, metode demonstrasi, dan metode bermain yang pada  dasarnya sudah cukup baik tetapi masih sangat rendah. Setelah dilaksanakan metode storytelling atau mendongeng terjadi peningkatan terhadap sikap dan perilaku anak atau siswa tersebut.Penerapan metode storytelling atau mendongeng pada anak usia dini atau siswa sekolah dasar berdasarkan kemampuan yang diharapkan mencapai beberapa pengembangan seperti bahasa, sosial emosional, moral dan dapat memberikan pengetahuan baru bagi anak. Ketika mendongeng harus sesuai dengan tahap perkembangan anak yaitu baik dari bahasa, media maupun langkah-langkah dalam pelaksanaannya. Hal tersebut agar lebih komunikatif, efektif, dan menyenangkan bagi anak.Beberapa kendala yang dihadapi dalam pengembangan nilai-nilai moral melalui metode storytelling atau mendongeng pada anak usia dini atau siswa sekolah dasar yaitu sebagai berikut:Kurangnya tenaga kerja atau guru. Dalam melaksanakan metode storytelling atau mendongeng dibutuhkan beberapa guru, minimal dua orang guru. Apabila guru yang satu sedang bercerita teman guru yang lain mendampingi dan mengatur anakanak. Hal tersebut agar anak-anak selalu dalam keadaan kondusif, serta metode storytelling atau mendongeng dapat terlaksana dengan baik. selain itu dibutuhkan keterampilan guru dalam menceritakan isi cerita baik dari segi teknik vokal, kejelasan suara, ekspresi muka, dan keterampilan gerak tubuh yang menyenangkan maupun media yang digunakan agar anak tertarik mendengarkan cerita.Kurangnya fasilitas atau alat peraga sehingga guru harus menguasai berbagai teknik serta lebih ekstra dan detail dalam menjelaskan cerita tersebut agar pesan moral yang ada dalam cerita bisa tersampaikan dan dimengerti oleh anak.Pembahasan Pengembangan Nilai Agama dan Moral Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), nilai adalah harga, hal-hal yang berguna bagi manusia. Sedangkan, moral adalah perubahan penalaran, perasaan, dan perilaku tentang standar mengenai benar salah. Standar benar dan salah yang mengatur perubahan penalaran, perasaan dan perilaku ini tumbuh berdasarkan perkembangan lingkungan sekitar tempat individu tinggal. Sehingga moral dapat juga dikatakan sebagai adat atau kebiasaan. Selain itu moral juga dikatakan sebagai peraturanperaturan. Moral dapat disimpulkan sebagai kondisi pikiran, perasaan, ucapan, dan perilaku manusia yang terkait dengan nilai-nilai baik dan buruk. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral, yang artinya tidak bermoral serta tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral merupakan hal mutlak yang harus dimiliki oleh setiap manusia.Dengan demikian, pengembangan nilai moral merupakan pembentukan perilaku anak melalui pembiasaan yang terwujud dalam keadaan sehari-hari, hal tersebut untuk mempersiapkan anak sedini mungkin dalam mengembangkan sikap dan perilaku yang dilandasi dengan pancasila. Pada dasarnya pengembangan nilai-nilai moral pada anak usia dini atau siswa sekolah dasar sudah cukup baik, tetapi setelah dilakukan metode storytelling atau mendongeng terjadi peningkatan terhadap sikap dan perilaku anak. Selain metode storytelling atau mendongeng dalam pengembangan nilai-nilai moral pada anak-anak dapat diterapkan melalui metode demonstrasi, metode bermain dan pembiasaan pembelajaran sehari-hari.Metode Storytelling atau MendongengKementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mendefinisikan bahwa metode storytelling atau mendongeng adalah cara bertutur kata penyampaian cerita atau memberikan penjelasan kepada anak secara lisan, dalam upaya mengenalkan ataupun memberikan keterangan hal baru pada anak. Metode storytelling atau mendongeng ini lebih cenderung banyak digunakan, karena anak-anak biasanya senang jika mendengarkan gurunya mendongeng. Agar dapat menarik minat pada anak untuk mendengarkan, tentunya cerita yang dibawakan harus tepat yaitu sesuai dengan usia anak dan memuat nilai-nilai moral yang akan disampaikan oleh guru kepada anak.Penerapan metode storytelling atau mendongeng pada anak, berdasarkan kemampuan yang diharapkan mencapai beberapa pengembangan seperti moral, bahasa, sosial emosional serta memberikan pengetahuan baru setelah anak mendengarkan cerita. Dalam membawakan sebuah cerita harus sesuai dengan tahap perkembangan anak, baik dari media, bahasa, dan langkah-langkah dalam pelaksanaannya. Hal tersebut agar lebih komunikatif, efektif dan menyenangkan bagi anak-anak. Penerapan metode storytelling atau mendongeng pada anak usia dini atau siswa sekolah dasar biasanya dilakukan didalam maupun diluar ruangan yang disesuaikan dengan tema dan kebutuhan anakanak atau para siswa.Peranan Metode Storytelling atau Mendongeng dalam Mengembangkan Nilai-Nilai MoralStorytelling atau mendongeng merupakan salah satu metode yang paling banyak digunakan dalam pengembangan nilai-nilai moral untuk anak usia dini. Melalui metode storytelling atau mendongeng, dapat disampaikan berbagai pesan moral untuk anak. Menurut Otib Satibi Hidayat, storytelling atau mendongeng dapat ditanamkan berbagai macam nilai moral, nilai agama, nilai sosial, nilai budaya, dan sebagainya. Sedangkan, Moeslichatoen menjelaskan bahwa, sesuai dengan tujuannya metode storytelling atau mendongeng adalah menanamkan pesan-pesan atau nilai-nilai sosial, moral, dan agama yang terkandung dalam sebuah cerita. Metode storytelling atau mendongeng dapat mengubah perilaku anak-anak karena sebuah cerita mampu menarik anak-anak untuk menyukai dan memperhatikan, serta merekam peristiwa dan imajinasi yang ada dalam sebuah cerita. Selain itu, storytelling atau mendongeng dapat pula memberikan pengalaman dan pembelajaran moral melalui sikap-sikap dari tokoh yang ada dalam cerita. Supaya dapat mengetahui adanya peranan metode storytelling atau mendongeng dalam mengembangkan nilai-nilai moral pada anak usia dini atau anak sekolah dasar maka dilakukan sebuah pengamatan.Simpulan dan Saran Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan penelitian tentang peranan metode storytelling atau mendongeng dalam mengembangkan nilai-nilai moral pada anak, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:Pengembangan nilai-nilai moral pada anak usia dini atau siswa sekolah dasar biasanya dilakukan melalui pembiasaan, metode demonstrasi, dan metode bermain yang pada dasarnya sudah cukup baik tetapi masih sangat rendah. Setelah dilaksanakan metode storytelling atau mendongeng terjadi peningkatan terhadap sikap dan perilaku anak atau siswa tersebut.Penerapan metode storytelling atau mendongeng pada anak usia dini atau siswa sekolah dasar berdasarkan kemampuan yang diharapkan mencapai beberapa pengembangan seperti bahasa, sosial emosional, moral dan dapat memberikan pengetahuan baru bagi anak. Ketika mendongeng harus sesuai dengan tahap perkembangan anak yaitu baik dari bahasa, media maupun langkah-langkah dalam pelaksanaannya. Hal tersebut agar lebih komunikatif, efektif, dan menyenangkan bagi anak.Beberapa kendala yang dihadapi dalam pengembangan nilai-nilai moral melalui metode storytelling atau mendongeng pada anak usia dini atau siswa sekolah dasar yaitu:Kurangnya tenaga kerja atau guru. Dalam melaksanakan metode storytelling atau mendongeng dibutuhkan beberapa guru, minimal dua orang guru.Kurangnya fasilitas atau alat peraga sehingga guru harus menguasai berbagai teknik serta lebih ekstra dan detail dalam menjelaskan cerita.Saran Adapun beberapa saran dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut:Diharapkan para guru agar dapat menarik perhatian anak dalam mendengarkan sebuah cerita. Guru dapat memanfaatkan olah vokal yang dimilikinya dalam membawakan tokoh-tokoh yang ada dalam cerita. Sedangkan, dalam mengatasi anak yang masih pada tahap berpikir abstrak, guru seharusnya menggunakan bantuan alat peraga, seperti boneka tangan, benda-benda tiruan maupun cerita bergambar.Bagi para orang tua, selain disekolah diharapkan mengajarkan anak nilai-nilai moral di rumah setiap harinya, seperti hormat pada orang tua, tidak membuang sampah sembarangan, bersikap sopan santun, mengucapkan terima kasih, menghargai sesama manusia, dan bertanggung jawab sehingga anak akan terbiasa dan kelak menjadi pribadi yang bermoral.Bagi para peneliti lain dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai bahan acuan atau pertimbangan dalam merancang penelitian selanjutnya bagi yang sama maupun berbeda.